in the end i can’t graduate this year :’(
ah i need to dismiss this kind of attitude
let’s just focus on the task
and take any mistake we did before as a lesson
at least i learned not only computer science in my research
semangat ^^
in the end i can’t graduate this year :’(
ah i need to dismiss this kind of attitude
let’s just focus on the task
and take any mistake we did before as a lesson
at least i learned not only computer science in my research
semangat ^^
Alhamdulillah.
Seorang wanita muslimah, memiliki batasan hijab yang juga membatasi segala aktivitasnya agar terlindungi dari maksiat dan kerusakan. Hijab, bukan sekadar lembaran pakaian yang menutup aurat seorang wanita muslimah, namun juga lembaran ketakwaan yang membatasi segala gerak-gerik, ucapan dan perilaku wanita muslimah. Berkomunikasi dengan lawan jenis, boleh-boleh saja, asalkan hanya dalam batas yang memang diperlukan. Jangankan dengan lawan jenis, dalam segala hal saja, Umar bin Al-Khaththab pernah mengatakan, “Ucapan itu hanya ada empat, selain itu cuma sampah belaka. Pertama, membaca Al-Quran. Kedua, membaca hadits-hadits nabi. Ketiga, membaca ucapan-ucapan penuh hikmat dari para ulama. Keempat, berbicara hal yang penting, dalam soal keduniaan.”
Itu, bagi setiap muslim dan muslimah. Tidak layak seorang muslim atau muslimah mengobrol dalam soal-soal keseharian secara berlebihan, karena semua itu ibarat sampah yang seringkali mengandung kotoran dosa dan maksiat. Apalagi, antara seorang muslimah dengan seorang muslim, yang harus saling menjaga kehormatan masing-masing. Memang, berbicara dengan lawan jenis diperbolehkan. Tapi para ulama, memberikan beberapa rambu, sesuai dengan berbagai nash dalam syariat yang ada.
Menahan Pandangan
Allah berfirman, ”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …” (An-Nur: 30-31)
Menutup Aurat
Allah berfirman, ”… Dan janganlah mereka (wanita-wanita mukmin) menampilkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya …” (An-Nur: 31)
Artinya, bila harus berbicara dengan pria non mahram, seorang wanita muslimah harus menutup aurat sebatas yang dia yakini sebagai aurat, menurut dasar yang jelas.
Tenang dan Terhormat dalam Gerak-Gerik
Allah berfirman, “… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)
Di sini, yang perlu dihindari oleh wanita muslimah saat berbicara dengan pria non mahram adalah tutur kata yang dibuat-buat, yang dibikin supaya menarik, mendayu-dayu, mendesah-desah, atau dengan menggunakan suara yang diperindah, terlalu lemah lembut, dan sejenisnya. Bicaranya harus tegas, lugas dan seperlunya saja.
Serius dan Sopan dalam Berbicara
Allah berfirman, “… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)
Artinya, seorang muslimah tidak layak banyak bergurau dan bercanda saat berbicara atau membicarakan sesuatu dengan lawan jenisnya. Karena, canda dan tawa itu dapat mengundang ketertarikan pihak lawan jenis. Dan itu bahaya yang perlu dihindari sebisa mungkin.
Hindari Membicarakan Hal-hal yang Tidak Perlu
Segala yang bersifat darurat, haruslah dibatasi sebisa mungkin. Meski berbicara dengan lawan jenis tidak selalu merupakan hal darurat bagi seorang wanita muslimah, namun berbicara secara panjang lebar bisa menyudutkan seorang wanita muslimah dalam kedaruratan. Karena itu akan bisa menggiringnya untuk sedikit banyak menyentuh hal-hal yang dianggap kurang baik, atau bahkan dilarang dalam Islam.
Oleh sebab itu, coba batasi ruas-ruas pembicaraan, dan hindari topik-topik yang tidak perlu dibahas. Karena, bagaimanapun, seorang wanita adalah godaan bagi kaum lelaki. Bahkan godaan terberat baginya dalam segala situasi dan kondisi.
Allah berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna” (Al-Mukminun : 1-3)
Berbicara lewat telpon, boleh-boleh saja. Dalam hal ini, setidaknya dengan tingkat kecanggihan media telpon yang umum hingga saat ini, soal pandangan haram bisa nyaris dihindarkan sama sekali. Tapi soal adab-adab lain dalam berbicara, harus tetap diperhatikan.
(Ustadz Abu Umar Basyier)
semoga bisa mengingatkan akan hal-hal berharga yang mungkin kini telah terlupakan
***
kalau bapa lagi gak kerja, ku diantarnya ke sekolah naik sepeda
sayang kalau naik angkot katanya, dekat
sebelum jam pulang tiba pun ia sudah menunggu di depan sekolah
dengan bantalan kecil di belakang setir aku duduk manis meringis menahan sakit sedikit
malu ku rasa dulu, diantar dijemput bapa untuk berangkat dan pulangku, terlebih hanya pakai sepeda
tapi kini ku terharu mengilas baliknya
betapa bapa melakukan semua itu untuk bisa merencanakan masa depanku
sementara yang kupikirkan hanyalah gengsiku
kalau kau ingin tahu
500 uang sakuku dulu, sering aku iri melihat teman yang lain jajan ini itu
tak sadar aku sedang menabung untuk pendidikanku
sorenya ku pergi ke tpa
yang tiap bulannya hanya membayar 3000 kalau ingatanku masih benar
bersama teman dan adikku ku belajar agama disana
dua sosok perempuan menjadi guruku
yang satu memiliki sedikit kekurangan fisik namun semangatnya luar biasa dalam membagi ilmu
yang satunya lagi ku masih ingat betul memakai cadar, kacamata dan sarung tangan, yang mengajari kami semua dengan penuh kesabaran
jika mungkin, aku ingin bertemu lagi dengan mereka, sekedar untuk berterima kasih yang belum sempat ku sampaikan dulu
begitu pulang aku lebih banyak menghabiskan waktu belajar
hanya di masa pendidikan 6 tahun ini lah aku menggunakan satu-satunya meja belajar yang ada dirumah
duduk tegak dengan bohlam kuning menerangi
aku baru ingat kalau dulu aku adalah anak yang rajin
ternyata dulu aku ini bisa rajin dengan kemauanku sendiri
lalu apa yang sekarang membuat kurang bisa?
aku masih ingat, ketika aku bingung mama mendatangiku
dan mengajariku,
mengajariku matematika dengan cara yang mungkin didapatkan disekolahnya dulu
beda dengan yang kudapat dari sekolahku tapi nyatanya lebih kumengerti
tak pernah dituliskannya dalam kertas yang baru
kumengenal istilah kertas coret-coretan dari situ
dan yang lebih penting lagi, kala itu aku senang ketika ada yang mengajari ketidak tahuanku
mama juga selalu menyimpan berkas ulangan kami
ujian kakakku untukku dan ujianku untuk adikku
kalau belajarnya sudah, coba kerjain soal-soal terdahulu, bisa karena biasa katanya
suatu hal yang sekarang sudah lumrah kulihat di masa perkuliahan
namun dulu mungkin masih sangat jarang menurutku
ranking satu sampai lulusku
mungkin tak bisa kuraih tanpa bantuan ibuku
***
~ linking the past, present and future…
semoga bisa mengingatkan akan hal-hal berharga yang mungkin kini telah terlupakan
***
tidak banyak yang bisa kuingat
tapi ada cerita unik
dulu ketika berumur 2 tahun
aku menderita diare
percaya atau tidak, selama 11 bulan non stop
tiap hari bahkan sampai 20 kali aku (maaf) buang-buang air cerita mama
tidak terbayang bagaimana dulu mama mengurusiku
membersihkan kotoran dari tubuhku serta menyucikan pakaian dan tempat tidurku
sudahkah kita melakukan hal yang serupa pada orang tua kita?
atau setidaknya sudahkah kita menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kita di waktu kecil?
gara-gara penyakitku ini mama bahkan sampai bilang nyawa saringan
antara hidup dan mati jelasnya
hanya bisa pasrah setelah mencoba melakukan apa yang bisa dilakukan
kini apakah syukur sudah terucap?
apakah umur yang sudah menginjak dewasa ini telah digunakan dengan baik?
setidaknya karena mengetahui kalau dulu pernah meregang nyawa
***
~ linking the past, present and future…